Pesawaran, – ztv.co.id – Sekitar 100 hektare lahan persawahan di Desa Karangrejo, Kecamatan Negeri Katon, Kabupaten Pesawaran, terancam gagal panen akibat serangan hama tikus. Kerugian yang dialami para petani diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 juta.
Ketua Kelompok Tani Makmur, Sarmanto, mengatakan serangan hama tikus terjadi saat tanaman padi telah berusia sekitar 2,5 bulan atau memasuki fase keluar malai. Menurutnya, serangan tidak hanya terjadi sekali, tetapi berulang hingga tiga kali.
"Salah satu petani memperkirakan total kerugian akibat bencana ini mencapai kurang lebih Rp200 juta. Seluruh kerugian tersebut juga tidak tercover asuransi pertanian," ujar Sarmanto saat ditemui di lokasi persawahan, Kamis (2/7/2026).
Ia menjelaskan, pada kondisi normal lahan sawah seluas seperempat hektare mampu menghasilkan sekitar 15 kuintal gabah. Namun akibat serangan hama tikus, hasil panen diperkirakan hanya sekitar 2 kuintal, bahkan masih berpotensi berkurang karena tikus hingga kini terus menyerang tanaman padi.
"Tanaman padi yang sudah mengeluarkan malai diserang tikus berkali-kali. Kami hanya bisa pasrah karena serangan terus terjadi," katanya.
Sarmanto berharap pemerintah dapat memberikan bantuan atau kompensasi kepada petani yang mengalami gagal panen. Menurutnya, mayoritas warga menggantungkan penghasilan dari sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk biaya pendidikan anak.
"Kami berharap pemerintah memberikan bantuan atau ganti rugi agar kami bisa melanjutkan kehidupan, karena penghasilan kami hanya berasal dari sawah," ujarnya.
Ia juga mengungkapkan, para petani sebelumnya telah melakukan upaya pengendalian hama melalui kegiatan gropyokan dan berhasil menangkap sekitar 500 ekor tikus. Namun, langkah tersebut belum mampu menekan populasi hama yang terus merusak tanaman padi.
"Meski sudah dilakukan gropyokan dan mendapatkan sekitar 500 ekor tikus, serangan masih terus terjadi bahkan jumlahnya terasa semakin banyak," ungkapnya.
Keluhan serupa disampaikan Edi, petani asal Desa Karangrejo. Ia mengaku sawah miliknya seluas 1.700 meter persegi juga mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus.
"Kalau tidak ada hama, lahan seluas itu bisa menghasilkan sekitar satu ton padi. Namun sekarang diperkirakan hanya sekitar dua kuintal, itu pun kalau masih tersisa karena tikus sampai sekarang masih menyerang," katanya.
Menurut Edi setiap kali petani mengalami gagal panen, mereka tidak pernah menerima kompensasi ataupun bantuan dari pemerintah.
"Selama ini kalau gagal panen kami tidak pernah mendapatkan ganti rugi atau kompensasi dari pemerintah. Padahal para petani di sini hanya mengandalkan hasil sawah untuk memenuhi kebutuhan hidup," tegasnya.
Edi berharap pemerintah daerah segera turun tangan untuk menyikapi persoalan tersebut dan memberikan bantuan kepada para petani yang terdampak gagal panen.
(Zainal,Aji)